Ganti Kewarganegaraan

Submitted by on Nov 4, 2018

“Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa”

(Kolose 1:13, 14).

Ketika seorang raja di Timur Dekat kuno menyerang kerajaan lain dan menaklukkannya, ia acapkali memindahkan penduduk daerah yang ditaklukkannya ke wilayah lain dari kerajaannya. Meskipun pelaksanaannya menimbulkan ketidaknyamanan dan kesulitan (di pihak penakluk maupun yang ditaklukkan), tapi hal ini bermanfaat untuk menanamkan di pikiran orang-orang tawanan itu kewarganegaraan mereka yang baru. Sebagai contoh, ketika Raja Tiglat-Pileser III menaklukkan berbagai wilayah di Palestina, ia memindahkan sejumlah besar penduduk taklukan ke Mesopotamia, yang dilakukannya pula ketika ia menaklukkan kerajaan utara Israel. Belakangan Raja Nebukadnezar mengikuti cara tersebut ketika menaklukkan Yerusalem, dengan mengasingkan sebagian besar penduduk Yehuda ke Babel (termasuk di antaranya Daniel).

Paulus, barangkali meminjam ungkapan dari kaum Eseni di Qumran, yang empunya Gulungan Laut Mati, berbicara tentang “kuasa” kegelapan. Di antara orang Yahudi, kegelapan adalah analogi untuk menggambarkan kondisi mereka yang diperbudak oleh kuasa jahat. Sebagai lawan dari kuasa kegelapan dari si jahat, ada kerajaan terang—kerajaan kebenaran yang diperintah langsung oleh Allah yang adil.

Menurut Paulus, Allah telah menyelamatkan orang-orang Kristen di Kolose dari “kuasa kegelapan.” Kata Yunani yang digunakannya, rhyomai, merujuk pada tindakan menarik seseorang dari mara bahaya. Arti luasnya mencakup makna (1) bahaya itu sangat mengerikan dan (2) korban ditarik ke arah diri si penariknya. Paulus menambahkan sebuah kata depan yang berarti “keluar dari.” Dengan kata lain, Allah telah merenggut orang-orang Kristen ke luar dari wilayah kegelapan, menarik mereka ke arah diri-Nya. Allah memindahkan mereka ke kerajaan Anak-Nya, Yesus Kristus—kerajaan terang.

Mereka sekarang memiliki kewarganegaraan yang baru. Yesus Kristus sekarang yang memerintah atas mereka, dan sebagai penguasa mereka, Ia memberi status yang baru bagi mereka. Mereka sekarang menikmati “kemerdekaan” karena Ia telah menebus kita dari perbudakan. Dan kebebasan yang baru ini membawa “pengampunan dosa.” Dalam bahasa Yunani sekular, kata yang diterjemahkan “pengampunan” memiliki nuansa yang kaya makna, tetapi dalam Perjanjian Baru itu selalu merujuk pada suatu tindakan melewatkan dan/atau memaafkan dosa-dosa. Dan meskipun Paulus tidak mengatakannya, cukup wajar bila diasumsikan bahwa semua orang Kristen—termasuk kita—telah menerima manfaat yang sama.